Friday, August 7, 2015

Ingin Kaya....?? Berhentilah Sekolah !!!


TULISAN ini dilatari tiga hal. Pertama, menyikapi bursa kerja fair yang rutin diadakan diseluruh provinsi di Indonesia. Kedua, Kurikulum pendidikan kita yang lebih mengarahkan siswa untuk condong menjadi orang gajian. Ketiga, keinginan manusia yang sangat normatif yaitu ingin menjalani hidup dengan berkecukupan.

Dari akar masalah itu, saya banyak mendengarkan para orang tua yang berkata seperti ini: "Dibanding mewariskan harta saya lebih cenderung mewariskan ilmu pada anak saya karena bila dititipkan harta pasti habis. Tapi bila dititipkan ilmu mereka akan bisa hidup makmur, nyaman dan mandiri."
Benarkah jika anak dititipkan ilmu dengan sekolah setinggi tingginya dapat hidup makmur? "Paradigma usang" seperti itu, penulis dengar dari mayoritas orang tua mulai dari orang tua biasa hingga yang berpendidikan tinggi. Paradigma yang melahirkan statemen bahwa pendidikan dapat membuat hidup berkecukupan memang tidak salah. Banyak sarjana (apalagi sarjana kedokteran) yang memiliki kehidupan yang mapan. Tapi tak sedikit juga sarjana hidup sederhana saja. Bahkan menganggur.

Sebenarnya yang saya sayangkan dengan statemen tersebut adalah "Pendidikan" dimaknai secara sempit oleh masyarakat kita dengan lebih mengartikan menempuh pendidikan formal mulai dari SD hingga Sarjana. Padahal bukan itu, justru "pendidikan finansial di dunia nyatalah", bukan di sekolah, yang akan menyebabkan seseorang sanggup bertahan dari badai kesulitan ekonomi yang dapat menerpa kapan saja.
Pakar ilmu finansial Robert T Kyosaki mengarang buku berjudul, "If you want to be rich, don't go to scool" (Jika anda ingin kaya, jangan pergi ke sekolah). Seseorang walau dengan gelar sarjana sekalipun juga akan terkapar jika dihantam badai kesulitan ekonomi sebagai "orang gajian" di instansi tempat ia bekerja. Karena mentalnya adalah mental buruh, bukan mental pengusaha yang tahan banting. 

Ingin kaya? bukan sekolah tempatnya. Tapi di dunia bisnislah yang akan menempa seseorang untuk menjadi seorang pengusaha tangguh dan tahan banting. Namun yang sangat disayangkan yang terjadi ditengah tengah masyarakat adalah banyak UKM yang dibantu baik oleh NGO asing ataupun lembaga lain atau pemerintah, di saat usahanya mandeg dan dapat kesulitan merekapun dengan tangkas membuat “daftar alasan” yang membuat mereka kalah dalam bersaing.
Memutuskan berhenti berjuang menjadi entrepreneur dan lupa mengoreksi kesalahan diri untuk selalu bertumbuh. Hanya yang mampu mengoreksi diri dan selalu belajarlah - yang akhirnya mampu bertahan karena selalu berlatih dan kian hari kian tahan banting dan mampu meningkatkan daya saing produknya. Virus entrepreneur bukanlah sebuah virus instan karena ia harus disuntikkan pada generasi muda melalui perubahan kurikulum pendidikan disekolah dan sejak dari “sekolah pertama” yang dikenal anak yaitu lingkungan rumahnya. Settingan mental anak seperti ini, Ibarat si anak diajari memanjat pohon kelapa maka ketinggian pohon pepaya pasti terlewati. Tapi jika si anak diajari memanjat pohon pepaya jangan harap bisa menyamai tinggi pohon Kelapa. Artinya, jika anak disetting jadi pengusaha, serendah rendahnya pasti mampu jadi orang gajian. Tapi jika anak disetting jadi orang gajian, ia tak akan punya nyali jadi pengusaha.
Kepentingan Rezim Berkuasa

Dahulu, rezim berkuasa mempersulit warga menjadi entrepreneur dengan cara monopoli, regulasi, dan birokrasi yang berbelit-belit. Aroma KKN sangat kental. Cabang bisnis utama “haram” hukumnya untuk dapat dimasuki oleh masyarakat. Kesulitan memulai bisnis membuat calon pengusaha di masa itu mundur teratur. Ini juga merupakan salah satu pemicu yang melatari didirikan HIPMI tanggal 10 Juni 1972 yakni untuk mendorong masyarakat agar jadi pengusaha. Kurikulum pendidikan juga "di-setting" oleh Rezim untuk mencetak warganya menjadi pegawai saja.

Langkah yang tepat saat ini adalah mengubah kurikulum pendidikan agar memacu siswa menjadi seorang entrepreneur sejati yang tangguh. Hingga saat ini di sekolahan juga masih banyak pola pikir kuno berseliweran. Ada oknum guru berkata "Para murid harus rajin belajar, raih rangking satu, supaya setelah tamat nanti bisa bekerja di BUMN strategis dan dapat gaji tinggi"
Lalu setelah tamat sekolah, anak didik melamar kerja untuk jadi orang gajian alias buruh. Khusus bagi mereka yang memiliki titel jika diterima mereka diberikan seragam buruh yang agak berbeda seperti dasi yang terlihat sedikit "keren" padahal tetap saja namanya buruh. 
Yang pasti orang yang menerima gaji tidak akan pernah lebih kaya daripada orang yang telah memberinya gaji.

 
Merubah Paradigma, Mengubah Kultur,
Merubah paradigma "seolah-olah" memaksakan orang untuk mengubah agama yang diyakininya benar. Bisa dibayangkan akan terjadi pro dan kontra yang cukup menghebohkan. Karenanya berharap mengubah kurikulum pendidikan saja akan mustahil karena kurikulum pendidikan disusun oleh narasumber ahli yang masih memiliki paradigma lama. Mungkin narasumber ahli itu adalah seorang yang bergelar Profesor atau Doktor. Menyalahkan sang Profesor atau Doktor berpotensi untuk dicap kurang waras. (Profesor kok dilawan…..)

Dalam "menyuntikkan" virus entrepreneur ini, Orang tua harus berani memprovokasi anaknya dengan kata-kata: "Nak.... Ayah sudah terlanjur jadi orang gajian. Ayah adalah korban Rezim zaman dulu. Jadi, jika kamu besar nanti jangan mau jadi orang gajian seperti ayah. Jadilah pengusaha, sekalipun pengusaha tahu - tempe namun pastikan UKM yang kamu dirikan itu akan selalu bertumbuh, keraslah pada dirimu sendiri untuk berdisiplin dan bangun integritas dirimu karena integritas diri itu sangat fatal apalagi di mata perbankan. 

Semua Perbankan menyukai pengusaha seperti ini. Tirulah Bob Sadino, hanya dari modal awal lima butir telur hingga kemudian jadi besar karena berdisiplin keras, bandel, dan tahan banting. Jangan sekali kali kamu mengemis-ngemis kerja pada pemerintah atau minta kerja pada perusahaan orang karena mengemis kerja adalah ciri-ciri mental seorang pecundang dan pengecut. Ingat !!! ayah mengajarimu jadi seorang yang pemenang, bukan pecundang. Jika kamu tidak meraih ranking satu dikelas, janganlah bersedih karena ranking dikelas itu hanya lelucon, bahan tertawaan bagi para entrepreneur sejati. Justru yang harus kamu lakukan adalah mencatat nama teman-teman pintarmu yang rangking satu tadi. 

Kamu harus mampu memprovokasi teman temanmu itu jadi dokter, ahli hukum, ahli konstruksi dll. Setelah dia masuk dalam perangkap dan mengemis minta kerja, maka jadikan dia pekerja professional di jaringan kerajaan bisnis yang kamu rintis nanti. Kalo dia tidak mampu mencapai target, PECAT DIA karena untuk selalu bertumbuh dan menjadi besar kamu harus professional. Bisnis adalah bisnis - teman adalah teman. Jangan dicampur adukkan….”

Inilah pesan yang disampaikan para orang tua yang memiliki pola pikir radikal positif dalam memprovokasi anak-anaknya. Anak adalah kertas putih, tergantung kita mau membuatnya seperti apa. Kalau kita mencetaknya jadi orang gajian maka jadilah ia orang gajian. Dan jangan salahkan kalau banyak orang tua setelah pensiun beralih profesi jadi baby sitter, jagain cucu karena kedua orang tua si bayi pergi kerja. Jangan salahkan anak, jika ketika mereka berkeluarga, tapi masih juga sering "nanduk" orang tua ketika mereka tak bisa bayar kontrakan rumah (ndak usah merasa tertampar jika anda selaku orang tua sedang mengalaminya.)

Inilah resiko anak yang dari kecilnya sudah dicetak jadi orang gajian. Berakibat mental pengusaha si anak tak pernah terasah. Sekali kalah dalam persaingan dan usahanya harus tutup, mental aslinya selaku buruh kembali muncul. Mana mungkin bisa menang dalam persaingan usaha kalau tidak konsisten dan tidak punya keinginan kuat untuk bersaing. Pendidikan mental sedari dini sangatlah fatal. Janganlah kita berpikir bahwa pendidikan bisnis ini bisa dilalui dalam 2 – 3 tahun. Ingat !!! sekolah bisnis di dunia nyata itu belum ada lembaganya di dunia ini. Sekolah bisnis itu ada di kehidupan yang mereka jalani saat ini dengan menghadapinya.

Seperti yang kita maklum selama ini, Untuk tamat SD saja butuh 6 tahun. Padahal inti materi pelajaran SD hanya tiga point, yakni belajar membaca, menulis dan matematika dasar. Lainnya…? Hampir mayoritas mubazir. Kebanyakan ilmu yang diajarkan adalah ilmu yang jelas jelas gak ada relevansinya saat anak nantinya beraktifitas dilingkungannya. Akhirnya ilmu yang diajarkan guru hanya untuk kepentingan sesaat waktu ulangan. Siap ulangan ilmu tersebut dibuang ke tong sampah. Gak pernah di ingat lagi karena memang tidak terpakai dalam kehidupan sehari hari. 
Daripada mata pelajaran / mata kuliah mubazir seperti itu, tentu merupakan peluang yang bagus untuk memasukkan mata kuliah Entrepreneur kepada siswa atau mahasiswa untuk menyuntikkan virus entrepreneur tadi.

Bursa kerja fair yang rutin dilaksanakan diseluruh Indonesia, jika ditelaah lebih jauh, sebenarnya, juga untuk "meng-amini sistem" pendidikan dari pemerintah tadi, untuk mencetak orang gajian. Boleh dikatakan semua lembaga kursus di Indonesia juga memiliki visi dan misi menjadikan peserta didiknya untuk jadi orang gajian seumur hidup. Bahkan, salah satu lembaga kursus mengiklankan diri dengan bunyi:
--95% alumni LP3xx sudah bekerja--

Bukan salah Bursa Kerja Fair atau Lembaga Pendidikan tadi. Tapi Sistem pendidikan yang masih menyesatkan pola pikir anak anak muda kita yang potensial yang berakibat banyak di antara para muda, “terjerumus” jadi KULI sampai mati . Siapakah yang bisa mengubah?

Arloren Antoni

No comments:

Post a Comment