Bank sentral China membuat keputusan mengejutkan dunia dengan melakukan devaluasi atas nilai tukar harian yuan
sebesar 1,9%, ini adalah rekor mendevaluasikan diri terdalam di sepanjang sejarah.
Alasan kebijakan yang diambil PBOC ini dilakukan untuk mencegah penurunan
ekspor China lebih dalam lagi. Bisa jadi penurunan nilai mata
uang yuan tidak sepenuhnya ditujukan untuk membantu eksportir sebab kebijakan
ini memiliki implikasi yang lebih besar, pasar saham global anjlok dan harga komoditas dunia tergerus.
Dari segi domestik, devaluasi yuan bertujuan untuk membantu
eksportir. Namun, China juga ingin menjaga nilai mata uang yuan tetap
kuat untuk mencegah keluarnya modal asing yang dapat memperburuk kondisi
perekonomian mereka. Sedangkan dari segi internasional, China ingin menghindari perang
dagang dengan AS. China juga ingin mendongkrak penggunaan yuan untuk
tujuan politik, untuk menegaskan bahwa posisi mereka sangat kuat di
pasar global.
Pelemahan nilai Yuan seharusnya dalam jangka menengah akan
menguntungkan Indonesia sebab Indonesia masih banyak melakukan
hubungan bisnis dengan china. Indonesia banyak melakukan ekspor bahan mentah ke
China. Dengan tumbuhnya perekonomian China maka ekspor Indonesia ke
China juga akan meningkat.
Jika ekonomi China naik, maka ekonomi Indonesia juga akan tertolong. Jika melihat track record semenjak era presiden Susilo Bambang Yudhoyono dari 2004 hingga 2012 China menjadi penggerak utama perekonomian Indonesia. Pertumbuhan ekonomi Indonesia itu berjalan
paralel dengan China dan India. Pemerintah Indonesia tidak perlu melakukan banyak usaha dan
perekomomian tetap naik.
Sisi negatifnya bagi Indonesia yaitu China yang kuat akan barang manufaktur murah
akan semakin membanjiri pasar Indonesia dengan harga lebih murah. Pelemahan mata uang di dunia yang serentak
hanyalah kejutan awal dan bersifat sementara. Pasalnya banyak pihak di
sektor keuangan panik yang membuat kondisi keuangan semakin jelek.
Mengenai dolar yang hari ini menyentuh harga Rp13.800 per dolar
Amerika, Bank Indonesia harus melakukan tindakan dengan
mempersiapkan langkah intervensi agar rupiah tidak terlampau tinggi.
Dalam perhitungannya level rupiah yang masih kompetitif untuk ekspor
namun tidak terlalu memberatkan bagi impor adalah berada pada posisi di kisaran Rp12.500
per dolar Amerika.
No comments:
Post a Comment